![]() |
| Ki Hadjar Dewantara |
Bagi kita para guru
serta seluruh ersonal yang peduli dengan dunia pendidikan, pastilah
menyadari sepenuhnya bila bulan Mei ini adalah bulan yang penuh makna
bagi jagat pendidikan Indonesia.Masih selalu terkenang
kebesaran seorang KI Hadjar Dewantara yang telah menanamkan nilai-nilai
luhur bagi perkembangan dunia pendidikan di tanah air. Ki Hadjar
Dewantara dengan Perguruan Taman Siswa-nya, telah memberikan sumbangan
yang sangat besar pada perkembangan pendidikan nasional. Karena sampai
saat ini, landasan pokok penyelenggaraan pendidikan nasional sebagian
besar berdasarkan prinsip-prinsip Taman Siswa. Salah satu hal itu dapat
dibuktikan dengan penggunaan adagium Tut Wuri Handayani, menjadi
semboyan resmi dunia pendidikan di tanah air. Semboyan lengkap dari
adagium itu adalah Hing Ngarsa Sung Tulada (di depan berilah teladan) Hing Madya Mangun Karsa (di tengah ikut serta membentuk kehendak) dan Tut Wuri Handayani (di belakang tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan pada anak-anak).
Segala hal yang telah diperjuangkan oleh
Ki Hadjar pada waktu itu, sungguh mencerminkan kepeduliannya terhadap
keadaan tanah air kita di bawah jajahan Belanda. Beliau ingin bangsa
kita bisa membebaskan diri dari belenggu penjajah. Salah satunya melalui
pendidikan yang akan mencerdaskan seseorang. Hal ini mencerminkan
kecerdasan pikiran dan hati beliau. Lalu, apa yang masih bisa kita ikuti
dari keteladanan seorang Ki Hadjar?
Tujuan pendidikan kita dewasa ini
tentulah sangat berbeda dengan tujuan pendidikan ketika itu. Namun bila
ditarik benang merahnya, maka akan terlihat persamaannya yaitu sama-sama
berkehendak mencerdaskan pikiran dan perasaan seseorang. Tetapi amat
disayangkan, bila pada akhirnya dunia pendidikan hanya menghasilkan
ketajaman pikiran, yang terkadang tidak dibarengi oleh ketajaman rasa.
Dengan kata lain, pendidikan saat ini, cenderung menghasilkan
orang-orang pandai dan cerdas, tetapi kurang pandai dan cerdas dalam
perasaan. Sehingga terjadilah hal-hal yang kerapkali menyimpang dari
tujuan pendidikan semula, seperti pemalsuan ijazah atau tawuran di
antara sesama pelajar.
Adakah yang salah dari sistem pendidikan
kita dewasa ini? Apakah kita sudah tak lagi mengingat adagium yang
pernah dikemukakan oleh Ki Hadjar? Sulit untuk menjawab dengan tepat,
lantaran pendidikan kita dewasa ini lebih mementingkan hasil semata,
tanpa mau (lagi) melihat proses yang terjadi di dalamnya. Padahal
pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan manusia(humanisasi). Dan
sebagai sebuah proses, tentulah ada sesuatu yang harus dilalui serta
diikuti. Apabila kita mencoba mengingkarinya, maka kitapun telah
melemparkan diri pada titik nadir humanisasi itu sendiri.
Dengan akan diberlakukannya secara resmi
Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun pelajaran 2004/2005 mendatang,
kita boleh berharap akan membawa sedikit perubahan pada wajah pendidikan
kita. Karena pada KBK tersebut, penekanannya adalah pada bagaimana
membentuk kompetensi peserta didik. Dan logikanya, kompetensi akan
terbentuk apabila siswa telah mengikuti proses belajar di dalamnya.
Tanpa itu dan tanpa memperhitungkan itu adalah sebuah omong kosong.
Juga, sekarang banyak pemerhati
pendidikan kembali menginginkan adanya pendidikan budi pekerti, seperti
pada awal tahun tujuhpuluhan dulu. Karena memang hal itulah yang
(bangsa) kita perlukan saat ini. Harus diingat pula bahwa keluarga pun
sangat menentukan proses pendidikan seorang siswa. Tidaklah arif bila
orang tua, serta merta menyerahkan kualitas anak-anaknya hanya dari
bangku sekolah. Karena sekali lagi, pendidikan adalah sebuah humanisasi,
yang memerlukan keterlibatan pihak lain, baik pihak personal dan
finansial. Sehingga akan tercapailah kecerdasan pikiran dan perasaan
anak-anak kita.









0 comments:
Posting Komentar